Netizensulut.com – Pada reshuffle Kabinet Merah Putih 8 September 2025, Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengganti Sri Mulyani Indrawati dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.
Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, karena mengingat Sri Mulyani di kenal luas sebagai sosok teknokrat dengan reputasi internasional.
Bukan hanya itu, Mantan Menteri Keuangan ini sangat identik dengan urusan Fiskal di Indonesia.
Langkah ini tentunya menimbulkan pertanyaan besar, lantas bagaimana dampaknya terhadap ekonomi Indonesia setelah Sri Mulyani berhenti?
Berikut ini hasil Analisa dari berbagai sumber yang kami rampungkan, yaitu Jangka Pendek, Jangka Menengan dan Jangka Panjang.
Dampak Jangka Pendek
1. Gejolak di Pasar Keuangan.
- Nilai tukar rupiah sempat tertekan terhadap dolar AS.
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan akibat kekhawatiran investor.
- Obligasi pemerintah mengalami aksi jual karena investor asing merespons dengan hati-hati.
2. Antisipasi Ketidakpastian Kebijakan
- Investor masih menunggu arah kebijakan dari Menteri Keuangan yang baru.
- Ada kekhawatiran akan adanya pergeseran dari disiplin fiskal ke arah belanja populis.
Dampak Jangka Menengah
1. Risiko Disiplin Fiskal
Selama menjabat, Sri Mulyani di kenal menjaga defisit anggaran agar tetap terkendali. Pergantiannya ini bisa menimbulkan kekhawatiran bahwa defisit bisa melebar untuk mendukung program belanja pemerintah.
2. Kepercayaan Investor
Kredibilitas fiskal yang selama ini di jaga bisa terpengaruh bila penggantinya tidak mampu memberi kepastian dan arus modal asing berpotensi keluar.
3. Peluang Perubahan RAPBN 2026
Rancangan anggaran 2026 yang di ajukan Sri Mulyani kemungkinan akan direvisi. Hal ini membuka ruang bagi pemerintah untuk menggeser prioritas belanja sesuai agenda politik dan sosial.
Dampak Jangka Panjang
1. Reputasi Ekonomi Indonesia di Mata Global
Sri Mulyani dikenal dunia sebagai figur profesional dengan pengalaman di Bank Dunia. Pergantiannya bisa memunculkan pertanyaan internasional soal konsistensi kebijakan ekonomi Indonesia.
2. Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Jika kebijakan fiskal bergeser ke arah ekspansif, pertumbuhan jangka pendek bisa terdorong.
Namun, bila di kelola tidak hati-hati, risiko inflasi dan utang menumpuk bisa membebani ekonomi.
3. Stabilitas Sosial dan Politik
Keputusan ini juga berkaitan dengan respon terhadap keresahan masyarakat terkait pajak, biaya hidup, dan ketidakpuasan ekonomi.
Bila kebijakan baru mampu menjawab aspirasi rakyat, stabilitas bisa terjaga
Kesimpulannya
Pergantian Sri Mulyani oleh Presiden Prabowo menandai babak baru dalam pengelolaan keuangan negara. Dampak jangka pendek terlihat dari gejolak pasar, sementara jangka menengah dan panjang sangat bergantung pada arah kebijakan Menteri Keuangan pengganti.
Bila disiplin fiskal tetap dijaga dan komunikasi kebijakan jelas, ekonomi Indonesia bisa stabil. Namun jika belanja negara terlalu ekspansif tanpa perhitungan, risiko terhadap inflasi, utang, dan kepercayaan investor bisa meningkat.

