Netizensulut.com – Lagu-lagu sedih atau “galau” bisa langsung membuat kita teringat masa lalu karena otak manusia punya hubungan erat antara musik dan memori emosional.
Fenomena ini bisa di jelaskan lewat beberapa teori psikologi.
Secara psikologi, ada beberapa alasan utama mengapa lagu galau memicu ingatan:
Pemicu Memori (Memory Triggers)
Otak kita tidak menyimpan kenangan sebagai file tunggal. Sebaliknya, kenangan terdiri dari berbagai elemen sensorik, seperti suara, pemandangan, bau, dan emosi. Ketika Anda mendengarkan lagu yang sama persis dengan lagu yang Anda dengarkan saat mengalami kejadian tertentu, musik itu bertindak sebagai pemicu kuat yang memanggil kembali seluruh “paket” memori, termasuk emosi yang Anda rasakan saat itu.
Teori Koneksi Emosional
Musik punya kemampuan unik untuk memicu emosi. Lagu yang sedih sering kali punya melodi, lirik, atau harmoni yang secara ilmiah terbukti bisa membangkitkan perasaan nostalgia, duka, atau rindu.
Ketika emosi ini muncul, otak kita secara otomatis mencari konteks atau cerita di baliknya, yang sering kali mengarah ke ingatan masa lalu yang punya emosi serupa.
Asosiasi Klasik (Classical Conditioning)
Ini adalah konsep yang diperkenalkan oleh Ivan Pavlov. Mirip dengan bagaimana anjing Pavlov belajar mengasosiasikan suara bel dengan makanan, kita juga bisa mengasosiasikan lagu tertentu dengan pengalaman hidup.
Misalnya, jika Anda sering mendengarkan lagu A saat sedang patah hati, lagu itu akan secara otomatis terhubung dengan perasaan patah hati.
Setiap kali Anda mendengarkan lagu A lagi, perasaan itu bisa muncul, bahkan jika Anda sudah tidak patah hati.
Singkatnya, musik menciptakan jembatan langsung ke bagian otak yang menyimpan memori dan emosi. Lagu-lagu galau, dengan emosi yang kuat di dalamnya, berfungsi sebagai kunci yang membuka kembali “laci” kenangan emosional kita.
Berikut adalah beberapa kata-kata motivasi yang berkaitan dengan pengalaman ini:
“Jangan biarkan melodi masa lalu menentukan lagu masa depanmu. Ingatlah kenangan, pelajari pelajarannya, lalu biarkan ia menjadi nada latar, bukan melodi utama.”
“Mengenang masa lalu melalui lagu itu wajar, tetapi pastikan Anda menyadari bahwa Anda adalah pendengar, bukan lagi pemain utamanya. Cerita Anda terus berlanjut.”
“Lagu yang sama mungkin memutar kenangan lama, tetapi hati Anda adalah DJ-nya. Putuskan apakah Anda ingin terjebak di putaran ulang yang sama atau maju ke trek berikutnya.”
Bagaimana Musik Mempengaruhi Emosi Kita?
Musik memang punya kemampuan luar biasa untuk memengaruhi emosi kita. Ini bukan cuma perasaan subjektif, tapi ada dasar ilmiahnya.
1. Peran Dopamin dan Otak
Saat mendengarkan musik yang kita suka, otak kita melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter yang terkait dengan rasa senang, motivasi, dan “hadiah.”
Pelepasan dopamin inilah yang membuat kita merasa bahagia, bersemangat, atau bahkan merinding.
Efek ini mirip dengan yang terjadi saat kita makan makanan enak atau melakukan hal yang kita nikmati.
2. Keterkaitan dengan Amigdala
Amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab mengolah emosi, bereaksi kuat terhadap musik.
Amigdala bisa memicu respons ketakutan, kesedihan, atau kebahagiaan saat mendengarkan nada atau melodi tertentu, terutama jika nada itu sudah terhubung dengan memori emosional di masa lalu.
Ini menjelaskan mengapa lagu galau bisa terasa begitu menusuk dan memicu kenangan sedih.
3. Sinkronisasi Denyut Jantung dan Napas
Musik punya ritme yang bisa memengaruhi fungsi tubuh kita. Musik dengan tempo cepat bisa meningkatkan detak jantung dan pernapasan, membuat kita merasa lebih berenergi atau cemas.
Sebaliknya, musik dengan tempo lambat dan lembut bisa menenangkan sistem saraf, menurunkan detak jantung, dan membuat kita rileks.
Ini adalah salah satu alasan mengapa musik sering digunakan dalam terapi untuk mengurangi stres.
4. Peran Melodi dan Lirik
Otak kita memproses melodi dan lirik secara terpisah, namun keduanya bekerja sama untuk menciptakan pengalaman emosional.
Melodi: Nada-nada sedih (misalnya, melodi dalam kunci minor) cenderung memicu perasaan duka atau kesepian secara universal.
Lirik: Kata-kata dalam lirik memberikan narasi atau cerita. Ketika lirik itu berhubungan dengan pengalaman pribadi kita, maka emosi yang muncul akan jauh lebih kuat.
Secara keseluruhan, musik adalah “jalan pintas” ke pusat emosi di otak kita.
Musik bekerja dengan cara memicu respons biologis dan psikologis yang terhubung erat dengan memori dan pengalaman hidup kita.
Manfaat Musik untuk Mengelola Emosi
Mengingat bagaimana musik sangat memengaruhi emosi kita, ada beberapa cara praktis yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengelola perasaan dan suasana hati Anda.
Ini bukan hanya tentang mendengarkan, tapi tentang bagaimana kita menggunakan musik sebagai alat.
Mengelola Emosi dengan Musik
Meningkatkan Suasana Hati: Ketika Anda merasa lelah atau sedih, cobalah mendengarkan musik yang punya ritme cepat, lirik yang positif, dan melodi yang ceria.
Musik seperti ini bisa memicu pelepasan dopamin, membuat Anda merasa lebih berenergi dan optimistis.
Mengatasi Stres: Jika Anda merasa tegang, musik yang tenang dan lambat bisa sangat membantu. Melodi yang lembut, seperti musik klasik, jazz, atau musik alam (suara ombak, hujan), dapat menenangkan sistem saraf dan menurunkan detak jantung Anda.
Mengolah Kesedihan (daripada Menghindarinya): Terkadang, mendengarkan lagu galau justru bisa menjadi cara sehat untuk memvalidasi perasaan sedih Anda.
Biarkan diri Anda merasakannya, tapi tetapkan batas waktu. Setelah itu, alihkan ke musik yang lebih positif untuk membantu Anda “move on.”
Membuat ‘Playlist’ Emosional: Buat beberapa playlist yang berbeda untuk setiap suasana hati.
Misalnya, satu untuk saat Anda butuh energi, satu untuk relaksasi, dan satu lagi untuk refleksi. Dengan begitu, Anda punya alat yang siap pakai kapan pun Anda butuhkan.
Musik adalah alat yang kuat. Dengan sedikit kesadaran, kita bisa memanfaatkannya bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk kesejahteraan emosional.

