Jeritan Sunyi di Balik Tumpukan Sampah: Sebuah Ide Kepedulian di Jantung Kota Manado

Netizensulut.com, MANADO – Di bawah naungan langit Jumat yang mulai menua, sebuah panggilan hati diwujudkan dalam aksi nyata.

Otus Jolandae, calon anggota KMPA Tansa angkatan XX, berdiri sebagai garda terdepan, menyerukan perlawanan terhadap kotoran yang mencemari raga.

Ia menggelar ritual pembersihan di lahan Kos OHIO 2 dan Kos Berkat Politeknik, sebuah sudut di Kelurahan Buha, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, yang telah lama di selimuti kepiluan.

Aroma tak sedap dan pemandangan miris adalah saksi bisu kebiasaan yang mengiris. Prastika Kardiana Kansil, salah seorang penanggung jawab kegiatan, menyuarakan kekecewaan yang mendalam atas ulah sebagian penghuni yang tega membuang sampah sembarangan, seolah mengkhianati keindahan tempat tinggal mereka sendiri.

“Hal itu jelas tidak sedap dipandang, membuat udara menjadi tidak sehat, dan berpotensi menimbulkan penyakit bagi penghuni,” ujarnya, sebuah gugatan tajam terhadap minimnya nurani.

Prastika melanjutkan, persoalan sampah ini ibarat benang kusut yang harus diurai bersama. Tanggung jawabnya harus dipikul oleh tiga pilar: pemilik kos, penghuni, dan sang penjaga kebersihan lingkungan.

“Pemilik kos bisa bekerja sama dengan pihak kebersihan atau kepala lingkungan agar sampah dikelola dengan baik dan tidak dibuang sembarangan. Selain itu, penting juga bagi pemilik kos untuk mengingatkan para penghuni agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan,” katanya sambil tersenyum, sebuah harapan yang tersemat di balik senyum tipisnya.

Namun, di tengah gemuruh semangat pembersihan, hati Prastika terjerembab dalam keprihatinan yang membara. Tepat setelah lahan kembali suci, tangan-tangan tak bertanggung jawab kembali menaburkan sampah di lokasi yang baru saja diperjuangkan.

“Saat ditanya, mereka bilang diarahkan oleh penjaga kos karena nanti sampahnya akan dibakar. Padahal, membakar sampah justru menimbulkan dampak serius seperti polusi udara yang mengandung zat berbahaya, dioksin, merkuri, dan karbon monoksida, yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan hingga penyakit kronis. Selain itu, abu hasil pembakaran juga bisa mencemari tanah, air, dan tanaman,” jelasnya, sebuah peringatan keras tentang bahaya yang mengintai di balik bara api.

Ia pun melayangkan harapannya kepada sang pemegang kuasa. Sebuah bisikan, agar pemerintah setempat segera menyentuh nurani para pemilik kos, mendesak mereka untuk membuka mata terhadap kebersihan sekitar.

“Jika tidak dijaga, hal ini tentu bertentangan dengan misi pemerintah untuk mewujudkan Manado yang aman, nyaman, dan sehat,” tegas Prastika, seolah menancapkan tombak kebenaran.

Di tengah perjuangan yang tak mudah, tim ini berhasil mengumpulkan tujuh trashbag besar yang memuat beban non-daur ulang, serta satu karung besar harta daur ulang. Tumpukan itu kemudian diserahkan kepada warga, sebuah jembatan harapan untuk diubah menjadi nilai ekonomis.

Calon anggota KMPA Tansa angkatan XX ini berharap, gema aksi ini akan menggugah. Semoga ia menjadi cermin yang memantulkan kesadaran bagi pemilik dan penghuni kos, menyalakan api kepedulian untuk menjaga martabat lingkungan.

“Dengan kepedulian bersama, kos bisa menjadi tempat yang nyaman dan sehat untuk ditinggali. Bersih itu bagian dari iman, mari kita jaga lingkungan kita bersama,” tambah Prastika, sebuah seruan spiritual yang menyentuh relung jiwa.

Di sisi lain, Aryudi Papea, pengurus KMPA Tansa, menafsirkan aksi ini sebagai sebuah babak penting. Proses pembelajaran yang mengasah kepekaan sosial dan lingkungan para tunas-tunas baru.

“Masalah sampah tidak akan pernah selesai jika manusianya tidak memiliki kesadaran untuk menempatkan diri dengan benar. Semoga aksi ini bisa sedikit banyak mengurangi persoalan lingkungan di area kos-kosan tersebut,” pungkas Aryudi, menutup kisah perjuangan ini dengan nada refleksi yang mendalam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *