Netizensulut.com, MANADO – Provinsi Sulawesi Utara menjadi tuan rumah dalam event Serahsehan Nasional, dengan tema ‘Obligasi Daerah sebagai Salah sati Alternatif Pembiayaan Daerah dan Instrumen Investasi Publik’.
Gubernur Sulut Yulius Selvanus menjadi Keynote speaker dalam Acara tersebut, dengan Narasumber utama Ketua FPG MPR RI, Melchias Markus Mekeng, juga Narasumber lainnya, Rektor Unsrat, Dr. Oktovian Sompie, Deputi Komisioner Pengawas OJK, Eddy Manindo Harahap, dan Moderator Akbar Faizal.
Acara yang sangat positif untuk daerah ini berlangsung di Ruang CJ Rantung, Kantor Gubernur Sulawesi utara pada Rabu 19 November 2025.
Gubernur Yulius dalam kesempatannya memaparkan data mengenai Pembangunan dan Fiskal daerah.
Hal itu, Gubernur Jabarkan sekalian mengklarifikasi terkait pernyataan salah satu Wakil rakyat di DPR RI dari dapil Sulut tentang kecilnya anggaran di Sulut pada tahun 2026 mendatang.
“Pemimpin harus berani menghadapi persoalan dan mengambil keputusan dalam situasi Sulit,” kata Gubernur Yulius dengan penuh semangat.
Ia juga menjelaskan bahwa seorang pemimpin hadir tidak hanya dalam kondisi baik saja, melainkan harus hadir juga dalam kondisi tidak baik sekalipun.
Lalu, Gubernur Yulius juga menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Badan Anggaran MPR RI yang selalu mendorong inovasi pembiayaan pembangunan lewat mekanisme Obligasi.
Tak sampai disitu, Gubernur Yulius pun memaparkan sejumlah potensi yang ada di Sulawesi Utara.
Secara Geografis serta Demografis, daerah Sulawesi utara memiliki wilayah laut sebesar 73,25 persen, dan luas sebesar 14,5 ribu Km², kemudian jumlah penduduk sebanyak 2,6 juta jiwa.
Dengan diapit dua jalur strategis di asia pasific, Gubernur meyakini bahwa Sulut punya peluang besar menjadi Hub Logistik dan ekonomi regional.
Kemudian, Gubernur juga dengan bangga menyebut bahwa karakter masyarakat Sulut yang berpegangan pada semboyan Sitou timou tumou tou ini sangat mendukung stabilitas pembangunan daerah.
Adapun, ia menjelaslan Visi dari RPJMD tahun 2025-2029 mempunyai target pertumbuhan ekonomi yang terbilang besar.
- Target pertumbuhan ekonomi dari 5,64 persen.
- Peningkatan daya saing daerah dengan indeks 7,69.
- Fokus juga pada ketahanan pangan, energi dan air.
Menurut Gubernur, Semua target itu membutuhkan Pembiayaan yang sangat kuat dan berkelanjutan.
Walaupun di tengah Efisiensi anggaran serta menurunya TKD dari Pemerintah Pusat, Gubernur Yulius menerangkan bahwa kondisi ini menempatkan daerah pada kategori kapasitas fiskal rendah atau sudah sesuai PMK No. 65 Tahun 2024.
Gubernur juga menawarkan opsi Obligasi daerah sebagai alternatif pembiayaan.
“Potensi tambang emas besar di Sulut, sebagai salah satu elemen yang memperkuat keyakinan,” tutur Gubernur.
Karena menurutnya sekelas Negara seperti Tiongkok, Jepang, Inggris dan AS sudah lama menggunakan obligasi hingga ke level Kota.
Pun begitu, Gubernur berharap agar kiranya hasil dari Sarasehan ini dapat mendorong keberanian untuk percepatan pembangunan.
“Saya mendorong Keberanian mengambil langkah inovatif demi percepatan pembangunan daerah dan menghasilkan rumusan kebijakan visioner untuk Sulut dan Indonesia.” Kata Gubernur mengakhiri kesempatannya.
Perlu di ketahui, TKD di Provinsi Sulut di tahun 2025 sebesar 14 Triliun, namun di tahun 2026 mengalami penurunan yang signifikan menjadi 11 Triliun.

