Netizensulut.com, SULUT – Konflik sosial berupa perkelahian antarkelompok warga antara Desa Watuliney dan Desa Molompar, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara pada 29 November 2025 menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Peristiwa yang dipicu oleh persoalan kompleks, termasuk pengaruh minuman beralkohol dan masalah pribadi yang melibatkan kelompok pemuda, meningkat menjadi bentrokan menggunakan senjata tajam serta aksi pelemparan.
Sebagai respons atas situasi tersebut, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara menegaskan komitmennya menjaga dan memulihkan harmoni sosial.
Kepala Kanwil Kemenag Sulut, H. Ulyas Taha, hadir dan membawakan materi berjudul “Merawat Torang Samua Basudara” dalam kegiatan Penguatan Harmonisasi Kerukunan Antarumat Beragama dan Sosialisasi Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Utara.
Kegiatan berlangsung di BPU Desa Watuliney Tengah, Kecamatan Belang, Kamis (11/12/2025), dihadiri 30 peserta generasi muda lintas agama.
Dalam pemaparannya, Kakanwil menekankan urgensi kewaspadaan terhadap berbagai bentuk disrupsi informasi yang kini berkembang cepat, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, politisasi identitas keagamaan, dan menguatnya sikap eksklusivisme.
Ia menguraikan tiga pilar penting yang harus menjadi pegangan bersama:
Pertama, saling menjaga kebersamaan. Masyarakat didorong membangun inklusivitas sosial, menghadirkan ruang hidup bersama tanpa sekat agama, serta proaktif mendukung keamanan dan kenyamanan ibadah pihak lain.
Kakanwil juga menegaskan bahwa ASN Kemenag Sulut wajib menjadi teladan kerukunan di mana pun berada.
Kedua, tidak mudah terprovokasi. Generasi muda diajak menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”, menahan diri, serta melakukan klarifikasi atas setiap isu yang berpotensi mengandung hoaks dan ujaran kebencian.
Ketiga, menjadikan moderasi beragama sebagai benteng.
Moderasi beragama dipandang sebagai instrumen strategis untuk membangun daya tahan sosial, mencegah konflik, dan memperkuat kohesi antarumat beragama di Sulawesi Utara.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan Komitmen Bersama Sulawesi Utara untuk Indonesia sebagai pernyataan sikap generasi muda lintas agama:
1. Kami berkomitmen menjaga Sulawesi Utara sebagai rumah yang damai bagi semua agama.
2. Kami akan melawan segala bentuk provokasi dengan literasi dan dialog.
3. Kami menolak intoleransi dengan memperkuat Moderasi Beragama.
Kanwil Kemenag Sulut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat nilai “Torang Samua Basudara” sebagai fondasi yang menjaga Sulawesi Utara tetap rukun, aman, dan harmonis.(*)

