Dari Bibit ke Harapan: Cerita Pecinta Alam Membangun Hutan Riparian di Manado

Netizensulut.com, Manado — Dalam rangka memperingati Hari Hutan Sedunia, MPA Marabunta, KMPA Tansa, dan KPA Silvaterra menggelar serangkaian kegiatan lingkungan di Lingkungan III, Kelurahan Buha, Kota Manado, pada Sabtu (21/03/2026).

Mengusung tema “Riparian Reborn: Tanam Pohonnya, Jaga Alirannya,” kegiatan ini diwujudkan melalui aksi nyata berupa penanaman puluhan bibit buah seperti lengkeng, durian, dan mangga.

Tak hanya itu, para peserta juga menanam bibit pucuk merah di sejumlah titik di sepanjang pinggiran sungai.

Ketua KPA Silvaterra, Ismail Putra Onthoni, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperingati Hari Hutan Sedunia.

Ia menilai penanaman pohon, baik buah-buahan maupun pucuk merah, merupakan langkah konkret dalam menjaga lingkungan sekaligus mencegah erosi.

Senada dengan itu, Ketua MPA Marabunta Joyfull Payumi menegaskan bahwa kolaborasi tiga komunitas pecinta alam ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga aksi bersih-bersih lingkungan.

 

“Kami memfokuskan pembersihan pada sampah plastik, tali-temali, kantong kresek, dan jenis sampah lainnya. Dari kegiatan ini, kami berhasil mengumpulkan sekitar empat karung besar sampah,” ujarnya.

 

Dengan demikian, peringatan Hari Hutan Sedunia kali ini diisi dengan dua agenda utama, yaitu penanaman pohon dan pembersihan area bantaran sungai, demi menjaga keasrian dan kelestariannya.

Ketua KMPA Tansa, Meikel Pontolondo, turut menjelaskan bahwa lokasi kegiatan ini kerap menjadi tempat berkegiatan bagi para pecinta alam di sekitar Politeknik.

Ke depan, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi laboratorium hutan riparian yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem serta mencegah erosi.

Ia juga menambahkan bahwa jika bibit-bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, bukan tidak mungkin kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Lebih lanjut, ia berharap kolaborasi antar komunitas pecinta alam dapat terus terjalin dan melahirkan program-program yang semakin kreatif di masa mendatang.

Sebagai penutup, pihak penyelenggara menyampaikan apresiasi kepada seluruh komunitas yang turut berpartisipasi, di antaranya KPPA Tarantula, PPAB Everest, KPAB Nucifera, dan GMPA Panthera Pardus.

 

“Terima kasih atas kebersamaan dan kontribusi semua pihak dalam menyukseskan kegiatan ini,” terangnya.

 

Tentang tema yang diangkat Riparian Reborn: Tanam Pohonnya, Jaga Alirannya adalah tema yang menekankan pentingnya memulihkan dan melindungi kawasan riparian, yaitu area di sepanjang tepi sungai, danau, atau aliran air lainnya, melalui aksi nyata seperti penanaman pohon dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Apa itu kawasan riparian?

Kawasan riparian adalah zona penyangga alami antara daratan dan badan air.

Area ini biasanya ditumbuhi vegetasi seperti pohon, semak, dan rumput yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem air.

Makna “Tanam Pohonnya”

Penanaman pohon di wilayah riparian bukan sekadar penghijauan, tetapi memiliki fungsi ekologis penting.

Mencegah erosi: Akar pohon mengikat tanah agar tidak mudah terkikis arus air.

Menyaring polutan: Vegetasi membantu menyaring limbah sebelum masuk ke sungai.

Menjaga suhu air: Kanopi pohon memberikan keteduhan yang penting bagi kehidupan akuatik.

Habitat alami: Menjadi tempat hidup bagi berbagai flora dan fauna.

Makna “Jaga Alirannya”

Menjaga aliran air berarti memastikan sungai tetap bersih, lancar, dan alami:

  • Tidak membuang sampah ke sungai
  • Menghindari penebangan liar di bantaran
  • Mengelola limbah rumah tangga dan industri dengan baik Menjaga debit air agar tidak terganggu (misalnya dari penyumbatan atau alih fungsi lahan).

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *