Netizensulut.com – Pernahkah Anda melihat rak supermarket mendadak kosong melompong dalam hitungan jam setelah sebuah berita besar muncul? Mulai dari masker, susu merek tertentu, hingga tisu toilet, fenomena ini dikenal dengan istilah panic buying.
Meskipun terlihat impulsif, ternyata ada alasan psikologis yang kuat di balik aksi “borong belanjaan” ini.
Mari kita bedah mengapa hal ini terjadi dan bagaimana dampaknya bagi kita semua.
Apa Itu Panic Buying?
Secara sederhana, panic buying adalah situasi di mana masyarakat membeli barang dalam jumlah yang jauh lebih besar dari kebutuhan normal karena rasa takut akan kelangkaan atau kenaikan harga di masa depan.
Biasanya, ini dipicu oleh krisis, bencana alam, atau perubahan kebijakan mendadak.
Mengapa Kita Melakukannya?
Psikolog menyebutkan bahwa perilaku ini bukan sekadar soal egois, melainkan mekanisme pertahanan diri manusia:
Rasa Ingin Memegang Kendali: Saat dunia terasa kacau (seperti saat pandemi atau isu kenaikan BBM), membeli stok barang memberikan perasaan bahwa kita masih punya kendali atas hidup kita.
Efek FOMO (Fear of Missing Out): Melihat orang lain mengantre panjang di kasir memicu insting kita untuk ikut serta. Kita berpikir, “Kalau semua orang beli, berarti saya juga harus punya.”
Berita yang Melebih-lebihkan: Informasi yang simpang siur di media sosial sering kali membuat skala masalah terlihat jauh lebih besar dari kenyataannya.
Dampak Buruk yang Sering Terlupakan
Meskipun bagi pelakunya hal ini terasa seperti “persiapan”, panic buying justru menciptakan masalah baru yang lebih nyata:
Kelangkaan Buatan: Barang menjadi hilang dari pasar bukan karena produksinya berhenti, tapi karena diborong sekaligus.
Lonjakan Harga: Hukum ekonomi berlaku; saat permintaan melonjak dan stok menipis, harga akan meroket. Ini tentu merugikan masyarakat berpenghasilan rendah.
Penimbunan Tak Berguna: Seringkali barang yang dibeli secara emosional akhirnya kedaluwarsa karena tidak sempat dikonsumsi.
Catatan Penting: Panic buying sebenarnya adalah lingkaran setan. Semakin kita panik, semakin langka barangnya, dan semakin mahal harganya.
Tips Tetap Tenang di Tengah Isu
Agar tidak terjebak dalam tren ini, ada baiknya kita mulai menerapkan kebiasaan belanja yang cerdas:
Cek Stok di Rumah: Sebelum lari ke toko, periksa apa yang benar-benar habis.
Verifikasi Berita: Jangan langsung percaya pesan berantai di grup WhatsApp. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi pemerintah.
Belanja Secukupnya: Ingat bahwa ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan barang tersebut daripada sekadar stok cadangan kita yang berlebih.
Kesimpulannya, persiapan itu perlu, tapi panik itu bumbu yang merusak suasana.
Dengan belanja secukupnya, kita membantu menjaga stabilitas harga dan memastikan semua orang mendapatkan bagian yang adil.

