Harmoni di Balik Pawai Ogoh-Ogoh : Pesan Persatuan dari Mopugad Utara

Netizensulut.com, BOLMONG – Sore itu, langit di atas Lapangan Desa Mopugad Utara tampak berbeda.

Di bawah rona jingga yang perlahan turun, ratusan pasang mata tertuju pada sosok-sosok raksasa yang tengah dipersiapkan.

Namun, di balik kemegahan festival tahunan ini, tersimpan sebuah narasi yang jauh lebih besar dari sekadar perayaan seni: sebuah narasi tentang keberagaman yang telah mendarah daging.

Adapun, Wakil Gubernur Sulut, Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH hadir mewakili Gubernur, menyaksikan langsung suasana kekeluargaan di pusat pemukiman umat Hindu di Bolaang Mongondow ini memberikan kesan mendalam bagi tamu undangan yang hadir.

Festival Ogoh-Ogoh bukan lagi sekadar ritual menjelang Nyepi, melainkan panggung di mana batas-batas perbedaan luntur oleh senyum dan sapaan hangat antarwarga.

Dalam sambutannya, ditekankan bahwa kebanggaan utama bukan terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada keteguhan umat Hindu di Bolmong dalam merawat warisan leluhur.

Hebatnya, penjagaan tradisi ini dilakukan tanpa menutup diri, melainkan dijalankan berdampingan secara harmonis dengan masyarakat sekitar yang beragam.

 

“Toleransi di sini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas atau jargon di baliho. Ia telah menjadi kebiasaan, perilaku yang spontan, dan nafas kehidupan sehari-hari,” ungkap Wakil Gubernur saat merefleksikan suasana di lapangan.

 

Masyarakat terlihat bahu-membahu, saling mendukung persiapan teknis tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Sebuah potret nyata bahwa kebahagiaan satu kelompok adalah kebahagiaan bagi seluruh desa.

Ada yang unik dalam kalender tahun ini. Kedekatan waktu antara perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri menjadi simbol yang sangat kuat.

Fenomena ini seolah menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat Sulawesi Utara bahwa ada kesempatan emas untuk saling menjaga dan menguatkan di tengah kekhusyukan ibadah masing-masing.

Tema Nyepi tahun ini, “Satu Bumi, Satu Keluarga”, menemukan bentuk visualnya di Mopugad.

Filosofi ini bukan sekadar kata-kata indah, melainkan realitas di mana manusia berbagi ruang hidup yang sama dan bertanggung jawab menjaga hubungan baik dengan sesama serta alam semesta.

Keharmonisan yang terpancar dari Bolmong ini diharapkan menjadi energi positif bagi seluruh wilayah Bumi Nyiur Melambai.

Dari hal-hal sederhana seperti gotong royong di lapangan desa inilah, fondasi Sulawesi Utara yang kuat dan rukun dibangun.

Menutup rangkaian acara, terselip harapan besar agar suasana penuh ketenangan dan kerukunan ini terus terjaga.

Karena pada akhirnya, persatuan adalah satu-satunya jalan bagi daerah ini untuk terus melangkah maju menghadapi tantangan masa depan.

(Nzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *