Netizensulut.com, TEHERAN – Ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bukanlah fenomena kemarin sore.
Perseteruan yang kini membawa kedua negara ke ambang konfrontasi terbuka pada awal 2026 ini memiliki akar sejarah yang membentang lebih dari tujuh dekade.
Memahami dasar peperangan ini memerlukan kilas balik ke titik-titik balik krusial yang mengubah kawan menjadi lawan bebuyutan.
1. Benih Luka: Kudeta 1953
Fondasi kebencian Iran terhadap campur tangan AS bermula pada tahun 1953.
Saat itu, Perdana Menteri Mohammad Mossadegh yang terpilih secara demokratis mencoba menasionalisasi industri minyak Iran guna melepaskan ketergantungan dari kontrol Inggris.
Khawatir akan kehilangan akses energi dan pengaruh di tengah Perang Dingin, CIA (Amerika Serikat) dan MI6 (Inggris) melancarkan Operasi Ajax.
Kudeta ini menggulingkan Mossadegh dan mengembalikan kekuasaan absolut kepada Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Bagi rakyat Iran, momen ini adalah bukti nyata imperialisme Barat yang menginjak-injak kedaulatan mereka demi komoditas hitam.
2. Ledakan 1979: Revolusi Islam dan Krisis Sandera
Selama 25 tahun berikutnya, Shah menjadi sekutu utama AS di Timur Tengah.
Namun, gaya kepemimpinannya yang otoriter dan pro-Barat memicu gelombang perlawanan yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini.
Revolusi 1979: Shah digulingkan, dan Iran bertransformasi menjadi Republik Islam yang menganggap AS sebagai “Setan Besar”.
Krisis Sandera Teheran: Mahasiswa revolusioner menyerbu Kedutaan Besar AS dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari. Peristiwa ini secara resmi memutus hubungan diplomatik kedua negara yang belum pulih hingga hari ini.
3. Perang Proksi dan Ambisi Nuklir
Pasca-revolusi, perseteruan beralih ke arena regional dan teknologi. AS mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak (1980-1988), sementara Iran mulai membangun jaringan pengaruh melalui kelompok-kelompok seperti Hizbullah.
Memasuki abad ke-21, titik didih bergeser pada program nuklir Iran. Washington menuduh Teheran berupaya membuat senjata pemusnah massal, sementara Teheran bersikeras bahwa program tersebut murni untuk energi damai.
Ketegangan ini sempat mereda melalui perjanjian JCPOA 2015, namun kembali meledak setelah AS keluar secara sepihak di era Donald Trump pada 2018.
4. Eskalasi 2026: Titik Nadir Baru
Memasuki tahun 2026, situasi mencapai level yang sangat berbahaya.
Laporan terbaru menyebutkan adanya operasi militer gabungan di wilayah Iran yang dipicu oleh kegagalan total negosiasi nuklir dan meningkatnya aktivitas militer di Selat Hormuz.
Kematian tokoh-tokoh kunci dalam serangan udara baru-baru ini telah memicu janji balasan yang “menimbulkan penyesalan” dari Teheran, membawa dunia pada kekhawatiran akan perang skala besar di Timur Tengah.
Analisis Singkat:
Dasar peperangan ini bukan sekadar masalah militer, melainkan benturan ideologi, trauma sejarah atas kudeta 1953, dan perebutan dominasi di kawasan Teluk yang kaya energi.
Selama rasa saling tidak percaya (distrust) ini tidak dijembatani, stabilitas di kawasan tersebut akan terus berada di ujung tanduk.
Bagaimana menurut kalian? Silahkan tinggalkan pendapat anda di kolom komentar dibawah !

