Netizensulut.com, DUBAI – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik nadir baru. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan tewas menyusul serangan udara masif yang diluncurkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Pengumuman ini dikonfirmasi langsung oleh media pemerintah Iran, IRNA, yang sekaligus menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Kematian Khamenei menandai babak paling krusial dalam ketegangan regional ini. Meski IRNA belum merinci detail kronologi kematian sang pemimpin, namun laporan tersebut mengakhiri spekulasi yang sempat simpang siur sejak Sabtu malam.
Tanda-tanda kejatuhan sang pemimpin mulai menguat saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan pernyataan melalui siaran televisi pada Minggu dini hari WIB.
Netanyahu menyebut adanya indikasi kuat bahwa serangan terhadap sebuah kompleks bangunan strategis di Iran telah mengenai target utama mereka.
Pernyataan ini diperkuat oleh Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social. Trump mengonfirmasi bahwa Khamenei termasuk di antara jajaran elit pimpinan Iran yang menjadi target operasi gabungan tersebut.
Di balik pergolakan politik ini, warga sipil menanggung beban terberat. Data dari Palang Merah Iran mencatat sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya luka-luka akibat gelombang serangan udara tersebut.
Salah satu titik paling tragis berada di wilayah selatan Iran, di mana sebuah sekolah khusus perempuan hancur total. Sebanyak 85 anak dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, memicu kemarahan publik di Teheran dan sekitarnya.
Teheran tidak tinggal diam. Sebagai balasan atas gugurnya pemimpin mereka, Iran meluncurkan rentetan serangan balik yang menyasar pangkalan militer AS dan wilayah Israel.
Alarm bahaya pun menggema di berbagai ibu kota negara Teluk, mulai dari Manama hingga Riyadh.
Langkah paling ekstrem yang diambil Teheran adalah ancaman terhadap jalur energi global.
Garda Revolusi Iran dilaporkan telah mengirimkan transmisi VHF kepada armada internasional, yang menyatakan bahwa kapal-kapal dilarang melintasi Selat Hormuz.
“Penutupan jalur ini merupakan langkah yang telah lama diperingatkan oleh Teheran. Jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh, pasokan minyak mentah dunia dari Teluk akan terhenti total,” ujar seorang pejabat maritim Uni Eropa (Aspides).
Di sisi lain, Israel memanfaatkan momentum ini untuk memperketat kontrol di wilayah Palestina.
Seluruh akses masuk dan keluar Jalur Gaza, termasuk pintu perbatasan Rafah, kini ditutup rapat.
Kebijakan ini menghentikan total distribusi bantuan kemanusiaan serta mobilitas warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah terjadi di sana.
Meskipun Khamenei sempat menyatakan sebelum kematiannya bahwa suksesi kepemimpinan telah dipersiapkan, dunia kini menanti dengan cemas: apakah Iran akan memilih jalan diplomasi dalam masa berkabungnya, atau justru memicu perang terbuka yang lebih luas.
Sumber: AP, AFP, Reuters, IRNA

