Menakar Independensi dan Profesionalisme Jurnalis Sulut di Tengah Pusaran Transformasi Digital

Netizensulut.com, MANADO — Dalam rangka memperingati Hari Buruh dan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado menggelar diskusi bertema “Kondisi Jurnalis di Sulawesi Utara Hari Ini” di Sekretariat AJI Manado, Rabu (6/05/2026).

Diskusi ini menyoroti tantangan profesi jurnalis yang kini beririsan dengan dinamika industri kreatif dan media sosial.

Ketua AJI Manado, Fransiskus Talokon, menekankan bahwa di tengah membanjirnya informasi, jurnalis dan media harus memiliki nilai tawar yang kuat.

Fenomena ini sejalan dengan realita industri saat ini di mana “Transformasi digital dan perubahan perilaku konsumen” telah mengubah cara publik mengonsumsi informasi.

Hal ini menuntut media dan praktisi konten untuk tidak hanya sekadar hadir, tetapi juga mampu membangun kepercayaan.

Pentingnya menjaga kualitas ini juga ditegaskan oleh narasumber diskusi. Mengingat “Pentingnya konten sebagai ‘wajah’ perusahaan” dalam hal ini perusahaan media, maka setiap produk yang dihasilkan harus memiliki standar estetika dan kredibilitas tinggi untuk menarik perhatian di tengah kebisingan informasi digital.
L
Namun, tantangan besar muncul ketika terjadi “Kesenjangan strategi dan eksekusi”. Banyak pihak di industri komunikasi dan media yang memiliki potensi besar namun terhambat oleh keterbatasan teknis dan pemahaman algoritma yang dinamis.

Dalam diskusi tersebut, Bathin Razan dari SPLM Manado menyoroti pentingnya penguatan ekonomi media sebagai fondasi independensi.

Strategi memperkuat ekonomi ini sejalan dengan “Visi dan solusi yang ditawarkan” oleh para pelaku jasa periklanan dan promosi untuk membantu entitas bisnis maupun media tetap relevan dan kompetitif.

Terkait perlindungan hukum, Sartika Sasmi Ticoalu dari LBH Pers Manado mengingatkan pentingnya kepatuhan pada kode etik agar terhindar dari jerat pidana.

Hal ini menjadi bagian dari “Tujuan akhir” dalam menciptakan ekosistem komunikasi yang sehat, di mana setiap karya—baik jurnalistik maupun konten promosi—mampu meningkatkan kesadaran publik dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Fransiskus menutup diskusi dengan rencana tindak lanjut berupa pelatihan jurnalisme data dan paralegal pada Juni 2026.

Upaya peningkatan kompetensi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadapi ketatnya persaingan di era industri 4.0.

(*/Nzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *