Netizensulut.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total angka pengangguran di Indonesia berada di kisaran 7,2 juta jiwa.
Dari jumlah tersebut, kelompok pengangguran terdidik berpangkat sarjana (S1) diperkirakan menembus angka 1,1 juta orang.
Kondisi ini terbilang ironis di tengah tersedianya puluhan juta peluang kerja di pasar nasional.
Fenomena ketimpangan kualifikasi (mismatch) antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri disinyalir menjadi faktor mendasar maraknya tingkat pengangguran terdidik.
Berdasarkan kajian analisis ketenagakerjaan dari LPEM FEB UI yang mengacu pada data Sakernas BPS, berikut adalah lima program studi tingkat sarjana dengan proporsi pengangguran tertinggi di Indonesia:
5. Akuntansi (5,1%)
Lulusan sarjana Akuntansi menyumbang sebesar 5,1% dari total pengangguran tingkat S1.
Perubahan tren teknologi digital dan efisiensi sistem pencatatan keuangan disinyalir berdampak pada ketatnya kualifikasi yang dipersyaratkan oleh industri.
4. Pendidikan (7,1%)
Rumpun ilmu Pendidikan menempati posisi keempat dengan kontribusi 7,1% terhadap total sarjana non-aktif.
Terbatasnya formasi pengangkatan tenaga pendidik formal serta belum meratanya distribusi guru menjadi tantangan tersendiri bagi para lulusannya.
3. Ekonomi (8,7%)
Sebagai salah satu rumpun keilmuan yang paling diminati calon mahasiswa, jurusan Ekonomi tercatat menyumbang angka pengangguran sebesar 8,7%.
2. Hukum (9,0%)
Lulusan bidang keilmuan Hukum berada di peringkat kedua dengan menyumbang sekitar 9,0% dari total lulusan S1 yang sedang berjuang mencari kerja.
Tingginya tingkat persaingan dan terbatasnya kuota profesi spesifik (seperti advokat, notaris, atau kurator) menjadi tantangan utama.
1. Manajemen (10,3%)
Posisi puncak ditempati oleh jurusan Manajemen dengan proporsi mencapai 10,3% dari total pengangguran sarjana.
Tingginya angka ini selaras dengan besarnya kuota penerimaan mahasiswa Manajemen di berbagai perguruan tinggi tiap tahunnya, yang tidak sebanding dengan kecepatan penyerapan di lapangan kerja formal.
Kelima program studi ini jika ditotal secara kumulatif mencakup hampir 40% dari seluruh angka pengangguran berpendidikan sarjana di Indonesia.
Para pakar ketenagakerjaan mendorong agar perguruan tinggi dan calon mahasiswa dapat terus menyesuaikan keahlian berbasis kebutuhan industri yang adaptif terhadap perkembangan teknologi modern.
Note: Data ini bisa kapan saja berubah sehingga kami menyarankan agar kiranya dapat mengupdate data terkait yang terbaru di website resmi Pemerintah atau BPS.
(Nzo)


