Penguatan Permodalan Bank SulutGo: Banggar DPRD Sulut dan TAPD Bedah Rencana Penyertaan Modal 2027

Netizensulut.com, SULUT – Sektor fiskal dan perbankan daerah di Bumi Nyiur Melambay kembali menjadi sorotan.

Lembaga legislatif melalui Badan Anggaran DPRD Provinsi Sulawesi Utara menggelar serangkaian rapat intensif bersama jajaran Direksi PT Bank SulutGo, yang kemudian dilanjutkan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah di Ruang Rapat Paripurna DPRD Sulut pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Agenda strategis tersebut memegang peranan krusial dalam rangkaian pembahasan dokumen Kebijakan Umum Anggaran serta Prioritas Plafon Anggaran Sementara Provinsi Sulawesi Utara Tahun Anggaran 2027.

Fokus utama perjumpaan ini mengarah pada proyeksi rencana penyertaan modal dari pemerintah provinsi kepada bank kebanggaan daerah tersebut.

Direktur Utama PT Bank SulutGo, Revino Pepah, membuka sesi pemaparan dengan menyampaikan rasa terima kasih kepada pimpinan serta anggota Banggar DPRD Sulut atas ruang diskusi terbuka guna mengawal arah penguatan fondasi keuangan bank daerah.

Ia menjelaskan bahwa substansi rapat kali ini menitikberatkan pada proyeksi suntikan modal pemerintah daerah untuk tahun anggaran 2027, sekaligus mematangkan strategi jangka panjang demi menjaga ketahanan struktur permodalan agar senantiasa comply terhadap regulasi yang berlaku.

“Pertemuan ini menjadi momentum yang sangat baik untuk menyampaikan kondisi terkini Bank SulutGo sekaligus membahas rencana penyertaan modal pemerintah daerah pada tahun 2027 maupun tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.

Tidak hanya membahas proyeksi anggaran, Revino turut membeberkan laporan pencapaian finansial BSG hingga kuartal kedua tahun 2026.

Tercatat, posisi modal inti atau core capital perseroan per pertengahan Juni 2026 berada di angka Rp1,648 triliun.

Kendati angka tersebut menunjukkan koreksi jika dikomparasikan dengan penutupan buku akhir tahun sebelumnya, pihak manajemen memastikan dinamika tersebut merupakan siklus bisnis yang lumrah di sektor industri keuangan.

“Jika dibandingkan dengan akhir tahun 2025, posisi modal inti memang mengalami penurunan. Penurunan ini wajar karena pada Maret lalu Bank SulutGo telah membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham, baik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, pemerintah kabupaten dan kota di Sulut maupun Gorontalo, PT Mega Corpora, hingga koperasi karyawan,” jelasnya.

Di samping faktor pembagian hasil usaha kepada para pemegang saham, pergerakan angka tersebut turut dipengaruhi oleh perhitungan perolehan laba tahun berjalan yang masih berjalan hingga pertengahan tahun, sehingga belum merepresentasikan akumulasi profit penuh sebagaimana laporan akhir tahun buku.

Lebih lanjut, manajemen menegaskan urgensi pemenuhan ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan yang mematok kewajiban minimum modal inti sebesar Rp3 triliun bagi setiap bank umum.

Saat ini, kalkulasi internal menunjukkan bahwa kebutuhan tambahan permodalan BSG masih berada di kisaran Rp1,1 triliun hingga Rp1,2 triliun.

Sebagai langkah antisipatif dan taktis, BSG telah menempuh jalur strategis melalui skema Kelompok Usaha Bank.

“Terhadap bank yang belum mencapai modal inti Rp3 triliun, otoritas memperkenankan bergabung dalam satu ekosistem KUB bersama institusi keuangan lain. Sejak akhir tahun 2024, Bank SulutGo telah melaksanakan KUB bersama PT Mega Corpora yang juga merupakan salah satu pemegang saham BSG,” ungkap Revino.

Melalui sinergi tripartit antara pihak bank, Badan Anggaran dewan, dan tim anggaran eksekutif ini, keputusan bijak terkait alokasi penyertaan modal diharapkan mampu memperkokoh ketahanan finansial bank.

Langkah tersebut diyakini kian memperluas kapasitas ekspansi pembiayaan sektor riil, menstimulasi pertumbuhan ekonomi regional, serta mendongkrak kualitas layanan bagi masyarakat luas di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo.

(Nzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *