Netizensulut.com, MINAHASA — Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti kawasan Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso, Minahasa.
Perhelatan akbar Kejuaraan Pacuan Kuda Seleksi Kejurnas Seri II Piala Gubernur Sulawesi Utara Tahun 2026 tidak sekadar melahirkan jawara-jawara baru di lintasan balap, melainkan juga menyalakan kembali api kehidupan bagi ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang selama ini berjuang keras demi menyambung asap dapur mereka.
Sejak fajar menyingsing di tanah Minahasa, riuh rendah suara pengunjung berpadu mesra dengan aroma kepulan kuliner tradisional.
Deretan tenda sederhana milik warga yang menjajakan aneka penganan, minuman segar, hingga kerajinan tangan khas daerah tampak padat disesaki pembeli yang datang dari berbagai penjuru bumi nyiur melambai.
Momentum emas ini menjadi saksi nyata bagaimana tradisi olahraga yang mengakar kuat di hati masyarakat mampu bertransformasi menjadi penopang utama ekonomi kerakyatan.
Di sudut area kuliner, gurat lelah di wajah para pedagang kecil seketika sirna, berganti pancaran kebahagiaan saat melihat barang dagangan mereka habis terjual.
Keuntungan yang berlipat ganda dari hari-hari biasanya membuat air mata haru tak terbendung.
Melalui sebuah ungkapan tulus yang lahir dari lubuk hati terdalam, jalinan apresiasi mendalam pun terucap nyata dari bibir mereka.
”Terima kasih semua yang terlibat dalam perhelatan kejuaraan pacuan kuda ini. Tentunya itu bisa membangkitkan ekonomi masyarakat seperti kami para pelaku disini,” ucap salah satu pelaku UMKM.
Ungkapan tulus tersebut menjadi representasi dari doa dan harapan ratusan pedagang kecil lainnya yang merasa sangat terbantu oleh kepedulian nyata para penyelenggara.
Kebangkitan ekonomi yang mereka rasakan langsung hari ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah kepastian hidup yang membawa ketenangan bagi keluarga mereka di rumah.
Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun hingga ke pinggiran sirkuit menciptakan efek domino yang luar biasa bagi ekosistem ekonomi lokal.
Dinamika yang begitu hidup di Tompaso membuktikan bahwa integrasi antara pelestarian budaya dan festival olahraga berskala besar merupakan instrumen yang sangat ampuh dalam membuka ruang-ruang ekonomi baru serta memperluas panggung promosi bagi produk unggulan daerah.
Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, secara terpisah menegaskan bahwa visi utama di balik kemegahan kompetisi ini adalah kesejahteraan rakyat kecil.
Beliau memandang agenda olahraga tahunan ini sebagai sebuah penggerak utama yang harus menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
”Saat kuda berlari di lintasan, ekonomi rakyat juga harus ikut melaju. Itulah tujuan besar dari setiap kegiatan yang kita selenggarakan,” menjadi pesan yang tercermin dalam semangat penyelenggaraan kejuaraan tersebut, Sabtu (6/6/2026).
Komitmen yang ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara ini membuktikan bahwa pendekatan pembangunan ekonomi yang berbasis pada adat dan tradisi lokal mampu memberikan dampak yang jauh lebih inklusif.
Geliat kesejahteraan ini pun diproyeksikan tidak akan berhenti di Tompaso saja, melainkan akan terus meluas ke berbagai sektor pendukung lainnya seperti moda transportasi lokal, industri perhotelan, hingga penyedia jasa logistik regional seiring dengan semakin banyaknya agenda nasional yang ditarik ke tanah Sulut.
Pada akhirnya, Kejuaraan Pacuan Kuda Piala Gubernur Sulut 2026 telah mencatatkan sejarah baru yang melampaui batas sebuah kompetisi ketangkasan. Ia menjelma menjadi sebuah monumen kebangkitan ekonomi rakyat.
Di bawah langit Tompaso yang cerah, setiap derap langkah kaki kuda yang berpacu kencang di atas lintasan tanah seolah menggemakan pesan kuat: bahwa ketika sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan para pelaku usaha kecil terjalin dengan tulus, maka kemakmuran sejati bukanlah angan-angan belaka, melainkan sebuah realitas yang dapat didekap bersama.
(Nzo)

