Netizensulut.com, MANADO – Forum Persaudaraan Lintas Agama (Forpelita) Sulawesi Utara terus memantapkan langkah untuk memperkuat persaudaraan, kerukunan, dan kebersamaan lintas agama di daerah.
Hal tersebut ditandai dengan digelarnya rapat pengurus Forpelita Sulawesi Utara di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Utara, Rabu (9/9/2026).
Rapat dihadiri jajaran pengurus Forpelita yang berasal dari berbagai latar belakang agama serta tokoh-tokoh lintas agama di Sulawesi Utara.
Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan dialog, dengan fokus utama pada penyempurnaan struktur organisasi serta persiapan deklarasi Forpelita Sulut.
Rapat dipimpin oleh Sekretaris Forpelita Sulawesi Utara, H. Usran Mantow.
Sementara itu, penjelasan mengenai maksud dan tujuan pelaksanaan rapat disampaikan oleh Pdt. Marlon.
Pembahasan diarahkan untuk memastikan kesiapan organisasi, termasuk penyempurnaan struktur kepengurusan dan pemantapan agenda deklarasi sebagai momentum penting bagi keberadaan Forpelita di Sulawesi Utara.
Dalam rapat tersebut, pengurus juga membahas waktu dan tempat pelaksanaan deklarasi.
Berdasarkan hasil pembahasan, deklarasi Forpelita Sulawesi Utara direncanakan berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 17.00 WITA, bertempat di Taman Kesatuan Bangsa (TKB) Kota Manado.
Sekretaris Forpelita Sulut, H. Usran Mantow, mengatakan bahwa deklarasi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mempertegas komitmen bersama tokoh-tokoh lintas agama dalam menjaga persaudaraan dan kerukunan di Sulawesi Utara.
“Forpelita hadir dengan semangat persaudaraan, kebersamaan dan penghormatan terhadap keberagaman. Deklarasi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam merawat kerukunan serta membangun komunikasi dan kerja sama lintas agama di Sulawesi Utara,” ujar Usran Mantow.
Menurutnya, keberagaman agama merupakan kekayaan sosial yang harus dirawat melalui komunikasi, dialog dan kerja sama yang konstruktif.
Karena itu, Forpelita diharapkan menjadi ruang bersama bagi para tokoh lintas agama untuk memperkuat persaudaraan sekaligus berkontribusi dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai, harmonis dan toleran.
“Yang kita bangun bukan hanya sebuah struktur organisasi, tetapi sebuah gerakan persaudaraan. Perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang untuk bekerja bersama bagi kebaikan masyarakat, bangsa dan daerah. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun Sulawesi Utara yang semakin rukun dan damai,” tambahnya.
Dalam rancangan struktur Forpelita Sulawesi Utara, unsur Forkopimda Sulawesi Utara direncanakan menjadi pelindung.
Sementara Roycke Harry Langie dan Kakanwil Kemenag Sulut, H. Ulyas Taha, ditetapkan sebagai pembina.
Rapat juga menyepakati bahwa hasil pembahasan dan penyempurnaan struktur Forpelita Sulut selanjutnya akan disampaikan kepada Pembina Forpelita Sulawesi Utara untuk mendapatkan arahan dan tindak lanjut.
Dengan persiapan tersebut, Forpelita Sulut diharapkan dapat menjadi wadah yang semakin kuat dalam mempertemukan berbagai elemen keagamaan, membangun komunikasi lintas iman, serta memperkokoh modal sosial kerukunan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Sulawesi Utara.
Deklarasi yang direncanakan berlangsung di Taman Kesatuan Bangsa Kota Manado tersebut diharapkan menjadi titik awal penguatan gerakan persaudaraan lintas agama secara lebih terorganisasi, inklusif dan berkelanjutan di Sulawesi Utara.
(*/Nzo)


