Serap Aspirasi di Malalayang Satu, Prof. Paula Runtuwene Janji Perjuangkan Potensi Museum Sulut dan Peningkatan SDM Tambang

Netizensulut.com, MANADO — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Prof. Dr. Julyeta P. A. Runtuwene, MS., kembali turun langsung menjumpai konstituennya melalui agenda Masa Reses Persidangan Kedua Tahun Anggaran 2026.

Kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat ini dipusatkan di Kelurahan Malalayang Satu pada Minggu (02/08).

Masa reses sendiri merupakan agenda konstitusional yang wajib dijalankan oleh setiap unsur legislatif guna melakukan tatap muka langsung serta mendengar dan menampung berbagai usul serta keluhan masyarakat di daerah pemilihan masing-masing.

Kehadiran politisi yang akrab disapa Prof Paula ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga setempat.

Kehadiran legislator tersebut dinilai warga sangat penting sebagai sumber informasi teraktual terkait arah pembangunan dan perkembangan daerah.

Dalam sesi dialog interaktif, sejumlah warga menyoroti potensi pariwisata sejarah, khususnya pengoptimalan promosi Museum Sulawesi Utara yang baru saja selesai direnovasi agar tidak sekadar menarik kunjungan wisatawan lokal, melainkan mampu menembus pasar pariwisata internasional.

“Kita tau sendiri Museum sulut baru saja direnovasi menjadi lebih bagus berkali-kali lipat dari sebelumnya dan ini menjadi potensi bagai mana sejarah Silawesi Utara sendiri yang unik untuk di ketahui” ucap salah satu peserta reses yang tidak ingin di sebutkan namanya.

Warga tersebut menambahkan perlunya strategi komunikasi kreatif agar cagar budaya dan pusat sejarah daerah kian dikenal luas oleh publik lintas generasi.

“Sekarang menjadi PRnya pemerintah bagai mana menjadikan Museum ini lebih terkenal atau Viral dengan sosialisasikan di tempat ramai seperti Mall, Mantos atau tempat-tempat anak-anak muda berkumpul supaya ketertarikan masyarakat apalagi pegiat sosail media fbpro mampu menyebar luaskan terkait museum sulut ke tingkat internasional dengan budaya sulut” lanjutnya.

Sementara itu, aspirasi lain datang dari dunia pendidikan dan ketenagakerjaan yang disuarakan oleh Pdt. Wiesye Nangoy, S.Th.

Ia menyoroti fenomena dominasi tenaga luar daerah pada sektor pertambangan di Sulawesi Utara, padahal Universitas Sam Ratulangi telah membuka program studi baru terkait pertambangan.

Melihat masifnya operasional perusahaan tambang di Bumi Nyiur Melambai, Pdt. Wiesye menilai penguatan sumber daya manusia (SDM) lokal menjadi sebuah urgensi mendasar yang harus segera direspons oleh pemangku kebijakan.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar kurikulum atau jurusan pertambangan juga dapat dihadirkan pada jenjang pendidikan tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai fondasi awal dan bekal keilmuan sebelum melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Menanggapi berbagai masukan, usulan, dan aspirasi yang disampaikan oleh warga Malalayang Satu tersebut, Prof Paula Runtuwene menyatakan kesiapannya untuk mengawal seluruh pokok pikiran masyarakat agar dapat terealisasi secara nyata melalui jalur legislatif.

“Setiap aspirasi tentang museum, pendidikan itu selain nanti akan menjadi Pokir saya, tentu akan saya pertanyakan kepada Dinas terkait ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) nanti” tutup Personil Srikandi Komisi IV bidang Kesejahteraan Masyarakat tersebut.

(*/Nzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *