Netizensulut.com, MANADO — Penyerapan aspirasi masyarakat kembali digelar oleh Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Prof. Dr. Julyeta P. A. Runtuwene, MS., dalam rangkaian agenda reses.
Kali ini, legislator yang duduk di Komisi IV tersebut memusatkan perhatian pada berbagai masukan dan persoalan yang disampaikan langsung oleh komunitas serta para pelaku seni di daerah.
Dalam kegiatan menjaring aspirasi konstituen tersebut, politisi yang karib disapa Prof Paula ini mendengarkan sejumlah keluh kesah mengenai kondisi ekosistem seni di Bumi Nyiur Melambai yang dinilai mengalami pelambatan, meskipun Sulawesi Utara saat ini berstatus sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas nasional.
Persoalan tersebut langsung disoroti oleh Alfrets, seorang seniman lukis lokal yang hadir sebagai peserta reses. Ia menilai fokus pengembangan pariwisata daerah kerap kali hanya tertuju pada keindahan alam semata.
“Torang tau pemerintah sulawesi utara memprioritaskan pariwisata, namun yang ingin saya tekankan saat ini bahwa bicara pariwisata bukan sekedar tentang pantai dan perbukitan. Ada juga kebudayaan” ungkap Alfrets.
Lebih lanjut, Alfrets menegaskan bahwa unsur kebudayaan dan kesenian memegang peranan krusial yang tidak terpisahkan dari kemajuan sektor pariwisata.
Oleh karena itu, ia menitipkan harapan besar kepada wakil rakyat agar ruang bagi para seniman dapat lebih diperhatikan.
“Kesempatan reses ini, berharap aspirasi kami para seniman dapat diperjuangkan oleh ibu dewan yang terhormat Prof. Paula Runtuwene, karena mengingat di daerah-daerah lain yang sama dengan sulut, mereka punya tempat sendiri bagi para seniman untuk di jadikan pentas kesenian yang menunjang pariwisata daerah” jelasnya.
Tidak hanya sektor seni rupa dan pertunjukan, persoalan pelik juga datang dari sektor dunia pendidikan seni.
Kekhawatiran ini disampaikan secara langsung oleh Oni Jaelani, S.Pd., atau yang lebih dikenal dengan sapaan Oni Epeng, seorang seniman panggung sekaligus guru kesenian.
Oni membeberkan realita di lapangan di mana minat serta eksistensi pendidikan seni budaya di sekolah-sekolah di Sulawesi Utara kian merosot.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya formasi dan rekrutmen tenaga pendidik khusus bidang seni, yang berdampak pada banyaknya lulusan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) yang belum terserap dunia kerja.
“Saya hanya ingin menyampaikan kepada ibu dewan yang juga guru saya Prof Paula, Bahwa di sulut saat minimnya penerimaan guru seni budaya sehingga sangat di sayangkan bagi kami alumni FBS bahwa ternyata perkembangan seni di sekolah-sekolah bakan menurut akibat kurangnya tenaga pendidik seni budaya” terang Oni.
Menanggapi berbagai aspirasi mendalam dari para seniman dan pendidik tersebut, Srikandi DPRD Sulut yang akrab disapa Prof Paula ini menyatakan komitmen penuhnya.
Ia memastikan setiap pokok pikiran yang bertujuan untuk mendongkrak pariwisata lewat jalur kebudayaan dan kesenian akan dikawal secara serius di tingkat legislatif.
“Tentu semua aspirasi yang baik untuk menunjang pariwisata daerah seperti kesenian seperti ini akan saya perjuangkan dan untuk beberapa hal terkait keorganisasian para teman-teman seni akan saya pertanyakan kepada biro hukum dan untuk hal yang lain, nanti di saat rdp bersama dinas terkait akan saya perjuangkan seperti dinas pendidikan dan kebudayaan” jawab Personil Komisi IV tersebut.
Di akhir pertemuan, dirinya turut mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para seniman, untuk terus bersinergi dan mendoakan agar setiap rencana serta kebijakan strategis demi kemajuan pariwisata berbasis seni budaya dapat segera diwujudkan oleh pemerintah provinsi.
“Saya berharap dukungan support, doa agar apa yang kita harapkan bagi kepentingan daerah di sektor pariwisata bidang seni ini bisa terakomodir” tutup Prof Paula.
(*/Nzo)

