Netizensulut.com, MANADO – Simpul tali bukan sekadar ikatan biasa. Di balik setiap lilitannya, tersimpan keterampilan dasar yang krusial untuk menunjang keselamatan.
Mulai dari aktivitas pendakian, pelayaran, penanganan darurat, hingga pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Selain itu, penguasaan tali-temali juga terbukti efektif melatih ketelitian, kesabaran, serta kemampuan memecahkan masalah.
Dalam dunia olahraga ekstrem dan organisasi pecinta alam, keterampilan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Berbagai jenis simpul diaplikasikan demi menjaga keamanan, prosedur penyelamatan, hingga teknik bertahan hidup (survival) di alam bebas seperti saat memanjat, mendirikan tenda darurat, mengevakuasi korban, maupun menyambung tali.
Berangkat dari urgensi tersebut, Kelompok Muda Pecinta Alam (KMPA) Tindakan Antusias Simpati Alam (Tansa) Sulawesi Utara menggelar Class Simpul Tali Panjat.
Kegiatan ini berpusat di Sekretariat KMPA Tansa, Lingkungan VII, Kelurahan Kairagi II, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, pada Kamis (2/7/2026).
Sebagai inisiator sekaligus peserta, KMPA Tansa tidak hanya memfokuskan pembekalan ini bagi internal organisasi.
Mereka juga merangkul komunitas lebih luas dengan mengundang masing-masing dua perwakilan dari setiap KPA, KPPA, GMPA, dan PPAB untuk mendalami pelatihan dasar tersebut.
Edukasi ini menghadirkan Moh. Sandry Pontoh bersama rekannya, Cerdik.
Keduanya merupakan anggota Mapala Areca Vestiaria Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang bertindak sebagai pemateri sekaligus pendamping praktik langsung bagi para peserta.
”Saya mengajarkan empat jenis simpul, yakni simpul delapan ujung tali, simpul delapan tengah tali, simpul nelayan (fisherman knot), dan simpul pita,” ujar Sandry usai memberikan materi dan pendampingan praktik.
Tak hanya simpul, para peserta juga dibekali pengenalan berbagai jenis jerat. Di antaranya adalah jerat pangkal, jerat pangkal ujung tali, jerat pangkal tengah tali, serta Italian hitch.
”Berikutnya ada jerat Prusik, yang terdiri dari Prusik klasik, Prusik auto block, dan Prusik Klemheist,” tambahnya.
Sandry menekankan pentingnya konsistensi pasca-pelatihan agar keterampilan yang telah diajarkan tidak pudar begitu saja.
”Setelah pelatihan ini, saya berharap peserta dapat terus berlatih bersama di Sekretariat KMPA Tansa. Sebagian perlengkapan sudah tersedia sehingga pengetahuan yang diperoleh bisa terus diasah melalui praktik,” katanya.
Ia menilai, program edukasi seperti ini harus memiliki keberlanjutan melalui kelas inkubasi atau ruang diskusi lanjutan guna mendongkrak kapasitas peserta.
”Ke depannya perlu ada kelas lanjutan ataupun sesi sharing bersama agar pengetahuan dan keterampilan setiap peserta terus meningkat,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan pengurus KMPA Tansa Sulut, Jhon Cornelius Malalantang, melayangkan apresiasi tinggi kepada tim pemateri yang telah meluangkan waktu demi mengedukasi para pecinta alam di kawasan Politeknik dan sekitarnya.
”Pengetahuan tentang simpul sangat penting untuk menunjang berbagai aktivitas, di mana pun berada, terlebih bagi mereka yang sering berkegiatan di alam maupun menekuni olahraga panjat tebing (climbing). Terima kasih kepada kawan Moh. Sandry Pontoh dan tim yang telah berbagi ilmu. Jangan bosan untuk terus berbagi pengetahuan dan berkunjung ke Sekretariat Tansa. Kami akan selalu terbuka,” ujarnya.
Jhon menaruh harapan besar agar Sekretariat KMPA Tansa ke depan dapat bertransformasi menjadi wadah belajar bersama (learning laboratory) bagi seluruh elemen organisasi pecinta alam, mulai dari KPA, KPPA, PPAB, KPAB, hingga Mapala.
Sinergi kolektif ini diharapkan mampu mendongkrak kapabilitas anggota, baik secara teoritis maupun implementasi riil di lapangan.
Dengan begitu, kolaborasi ini tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
”Kami berharap semakin banyak hal yang dapat dipelajari dan dibagikan bersama di Sekretariat KMPA Tansa ini,” pungkasnya.
(*/Nzo)

