Sebut Mirip TPA, Gabungan Komunitas Pecinta Alam Bersihkan Tumpukan Sampah di Kampus Polimdo

Netizensulut.com, MANADO – Kondisi sampah yang menggunung di kawasan Kampus Politeknik Negeri Manado (Polimdo), tepatnya di area belakang Gedung Jurusan Akuntansi, memicu keprihatinan mendalam dari kalangan mahasiswa pemuda pecinta alam.

Guna merespons persoalan tersebut, aliansi lintas organisasi yang digawangi MPA Marabunta Teknik Mesin Polimdo, MPA Khatulistiwa Jurusan Teknik Elektro Polimdo, serta KMPA Tansa bergerak menggelar aksi pembersihan dan pemilahan sampah pada Rabu (23/09/2026).

Ketua MPA Marabunta, Dean Osvaldo Eisly Picauly, menumpahkan keresahannya atas pemandangan di lingkungan akademis itu yang dinilainya kian menyerupai tempat pembuangan akhir.

“Melihat hal itu, kami berinisiatif melakukan pembersihan guna mencegah dampak pencemaran akibat tumpukan sampah di lingkungan Kampus Polimdo,” ungkap Dean.

Dean menegaskan, kelalaian dalam menangani limbah domestik kampus berpotensi merusak citra kelembagaan di mata masyarakat luar.

“Apalagi ini menyangkut persoalan sampah. Kalau tidak diperhatikan dengan baik, tentu akan menjadi pandangan buruk bagi orang yang berkunjung ke kampus,” ujarnya.

Pandangan senada diutarakan perwakilan MPA Khatulistiwa, Ade Juan Mouses Bernadus.

Menilai volume limbah yang terlampau besar, tim di lapangan memutuskan mengambil langkah strategis dengan memprioritaskan pemilahan jenis sampah yang bernilai guna.

“Banyak sampah yang dibiarkan menumpuk di Kampus Polimdo ini, sehingga kami tidak bisa mengangkat semuanya secara menyeluruh. Kami fokus pada sampah plastik yang kemudian kami serahkan kepada masyarakat yang menjadikan sampah plastik sebagai bagian dari sumber ekonomi mereka,” jelasnya.

Melalui pendekatan berorientasi lingkungan dan sosial ini, aksi gotong royong tersebut setidaknya dapat meringankan beban ekonomi warga sekitar yang mengandalkan daur ulang plastik.

“Jadi, apa yang kami lakukan adalah semampu yang bisa dilakukan, supaya volume sampah bisa berkurang,” tambahnya.

Dari giat di lapangan, para relawan berhasil menjaring 12 karung berukuran besar yang terdiri dari empat karung bawang dan delapan karung beras penuh sampah plastik.

“Syukurlah semuanya bisa langsung diangkut dan bermanfaat,” ujarnya.

Ade mengkritik pola penanganan sampah internal kampus yang dianggap belum ideal. Menurutnya, limbah sisa kegiatan civitas akademika seyogianya dapat dikelola secara produktif.

“Seharusnya sampah-sampah di Kampus Polimdo ditampung dengan baik, kemudian diserahkan kepada pengepul atau dijadikan bahan praktik agar lebih bermanfaat, daripada hanya ditumpuk seperti gunung TPA,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan KMPA Tansa, Prastika Kansil, memberikan peringatan keras bahwa tumpukan limbah tak terkelola bisa mendatangkan petaka nyata.

Ia menarik benang merah sejarah pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) saban 21 Februari yang berakar dari tragedi kelam longsornya TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 2005 silam.

“Dalam peristiwa itu, sebanyak 157 orang tewas dalam bencana kemanusiaan tersebut. Jika di area Kampus Polimdo sampah masih terus ditumpuk seperti ini, bisa saja menciptakan bom waktu,” terangnya.

Prastika juga menjabarkan risiko fisik lain yang mengintai, seperti potensi kebakaran hebat di area kampus saat musim kemarau atau cuaca terik.

“Sampah plastik ini salah satu jenis sampah yang bisa memercikkan api ketika terjadi pantulan panas dari matahari, kemudian pantulan cahaya mengenai dahan atau daun yang kering,” tambahnya.

Atas dasar itu, aksi yang diinisiasi mahasiswa ini diharapkan menjadi pemicu lahirnya tata kelola limbah yang sistematis dari pihak pengelola kampus.

“Semoga ke depannya ada solusi yang konkret dalam mengelola sampah yang digunakan dalam aktivitas Kampus Polimdo, tanpa harus ditampung seperti TPA,” harapnya.

Aksi lingkungan ini turut mendapat sokongan penuh dari sejumlah organisasi kemahasiswaan dan pegiat alam lainnya, di antaranya Himaju Elektro Polimdo, Himaju Teknik Mesin Polimdo, KPA Silvaterra, KPAB Nucifera, PPAB Everest, serta jajaran komunitas lokal setempat.

(Nzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *