Netizensulut.com, MANADO — Apa kabar Karhutla di Sulut ? Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai di Sulawesi Utara (Sulut) memasuki Oktober 2026. Kondisi tersebut berlangsung ketika sejumlah wilayah masih menghadapi cuaca relatif kering dan curah hujan rendah.
Data Polda Sulawesi Utara menunjukkan, sebanyak 370 kejadian karhutla tercatat di sejumlah wilayah hukum Polres dan Polresta jajaran sejak Januari hingga September 2026.
Luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2.653,76 hektare.
Kondisi di sejumlah daerah juga masih menunjukkan adanya ancaman kebakaran. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara bahkan memperpanjang status tanggap darurat karena titik api masih bermunculan di sejumlah wilayah pada akhir September 2026.
Apa Saja Dampak Karhutla di Sulut?
Karhutla tidak hanya menyebabkan vegetasi dan kawasan hutan terbakar. Ketika kebakaran meluas, dampaknya dapat merembet ke kualitas udara, kesehatan masyarakat, lingkungan, hingga aktivitas warga.
1. Kualitas udara dapat terganggu
Salah satu dampak yang paling langsung dirasakan ketika kebakaran menghasilkan asap adalah menurunnya kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran dan wilayah yang terdampak pergerakan asap.
Asap karhutla di sulut dapat membawa partikel halus, termasuk PM2,5. Kementerian Kesehatan sebelumnya mengingatkan bahwa paparan partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Karena arah dan konsentrasi asap sangat dipengaruhi kondisi angin serta lokasi kebakaran, tidak tepat menyimpulkan seluruh wilayah Sulawesi Utara atau Kota Manado mengalami kualitas udara buruk tanpa pengukuran pada lokasi dan waktu tertentu.
2. Risiko gangguan pernapasan meningkat
Paparan asap kebakaran dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan. Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki masalah pernapasan.
Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat memantau kualitas udara dan menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla.
3. Vegetasi dan ekosistem mengalami kerusakan
Api yang membakar kawasan vegetasi menyebabkan hilangnya tutupan tumbuhan dan dapat mengganggu habitat satwa.
Besarnya area yang terbakar di Sulut pada 2026 juga menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kejadian kebakaran di satu titik. Polda Sulut mencatat luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 2.600 hektare hingga September.
4. Aktivitas masyarakat dapat terganggu
Kebakaran lahan atau Karhutla di Sulut yang berada dekat permukiman atau fasilitas masyarakat berpotensi mengganggu aktivitas warga. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan kebutuhan pengerahan petugas untuk melakukan pemadaman dan pemantauan titik api.
Di Kota Manado, Pemerintah Kota Manado melaporkan adanya peningkatan laporan kebakaran melalui layanan 112. Hingga 18 September 2026, tercatat 311 laporan kebakaran yang diterima layanan tersebut sejak periode peningkatan laporan mulai Juni. Data tersebut merupakan seluruh laporan kebakaran dan tidak dapat disamakan seluruhnya dengan kejadian karhutla.
Sementara itu, pada September, Polresta Manado menyebut terdapat enam kejadian kebakaran yang menjadi perhatian monitoring. Dari enam kejadian tersebut, lima merupakan kebakaran lahan dan alang-alang.
Karhutla di Sulut Masih Menjadi Ancaman Saat Musim Kemarau
BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara memprediksi musim kemarau 2026 di sejumlah zona Sulut mulai berlangsung sekitar Juni hingga Juli. Untuk wilayah yang mencakup Kota Manado, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.
Memasuki September, BMKG masih mencatat Sulawesi Utara sebagai salah satu wilayah yang mengalami musim kemarau. Prediksi saat itu juga menunjukkan curah hujan rendah hingga menengah pada sejumlah wilayah Sulawesi.
Kondisi relatif kering tersebut belum sepenuhnya berakhir ketika memasuki Oktober. Dalam prakiraan BMKG periode 2–8 Oktober 2026, atmosfer Indonesia masih relatif kering dan kondisi kering berpotensi bertahan di sejumlah wilayah.
Artinya, pertanyaan mengenai musim kemarau berapa lama lagi tidak dapat dijawab dengan satu tanggal untuk seluruh Sulawesi Utara. Awal dan akhir musim berbeda menurut zona musim dan wilayah.
Bagaimana Kondisi Kemarau di Sulut pada Oktober 2026?
BMKG memprakirakan sebagian besar Sulawesi Utara masih berpotensi mengalami curah hujan rendah pada Oktober.
Analisis BMKG Dasarian II September menyebut peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada Oktober masih tinggi di sebagian besar Sulawesi Utara.
Namun, kondisi tersebut merupakan prakiraan wilayah, bukan berarti setiap daerah di Sulut akan mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering tidak berarti hujan sama sekali tidak akan terjadi. Pada periode tertentu, dinamika atmosfer tetap dapat memicu hujan di sebagian wilayah Sulawesi Utara.
Apa Kebijakan Pemerintah Daerah untuk Meminimalisir Karhutla?
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah mendorong pendekatan yang menitikberatkan pada pencegahan, deteksi dini, respons cepat dan koordinasi lintas sektor.
Gubernur Sulut Yulius Selvanus pada Agustus 2026 meminta pencegahan menjadi prioritas dalam menghadapi ancaman karhutla. Pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk menghadapi potensi kebakaran.
Langkah pencegahan juga dilakukan di kawasan tertentu. Balai Taman Nasional Bunaken, misalnya, menutup sementara jalur pendakian Gunung Manado Tua mulai 14 Agustus 2026 sebagai langkah pencegahan karhutla selama musim kemarau.
Di Minahasa Utara, pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat pada akhir September setelah evaluasi menunjukkan titik api masih bermunculan.
Apakah Asap Karhutla Sudah Memenuhi Langit Kota Manado?
Informasi mengenai asap yang memenuhi langit Kota Manado perlu dilihat berdasarkan lokasi kejadian, arah angin, jarak sumber kebakaran dan hasil pengukuran kualitas udara.
Sejumlah kebakaran lahan memang terjadi di wilayah Kota Manado dan kawasan sekitarnya. Namun, berdasarkan sumber yang diverifikasi untuk artikel ini, belum terdapat data resmi terbaru yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa seluruh langit Kota Manado sedang dipenuhi asap karhutla atau bahwa kualitas udara seluruh kota berada pada kategori tertentu.
Karena itu, masyarakat sebaiknya mengacu pada informasi kualitas udara dan peringatan resmi apabila terjadi kebakaran di sekitar tempat tinggal.
Karhutla Sulut Perlu Diwaspadai hingga Kondisi Lebih Basah
Data hingga September menunjukkan karhutla masih menjadi persoalan nyata di Sulawesi Utara. Polda Sulut mencatat ratusan kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai ribuan hektare.
Sementara itu, prakiraan BMKG menunjukkan kondisi relatif kering masih berpotensi berlangsung pada Oktober, termasuk di sebagian besar Sulawesi Utara.
Situasi tersebut membuat pencegahan tetap penting, terutama menghindari pembakaran lahan ketika kondisi vegetasi kering. BMKG sebelumnya juga mengingatkan masyarakat Sulut agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena api dapat meluas ketika kondisi lingkungan kering.
Bagi masyarakat, perkembangan karhutla di Sulut hari ini, kondisi cuaca dan kualitas udara sebaiknya dipantau melalui pembaruan resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, maupun instansi terkait karena situasi kebakaran dapat berubah dalam waktu singkat.
(Redaksi)

